Langsung ke konten utama

Izinkan Aku

sumber gambar : http://www.formasirua.or.id/
Izinkan aku terlelap lebih lama dalam alunan bait demi bait paragraf yang kau tulis. Karena saat ini, hanya dengan itu aku bisa belajar menyelami pikiranmu. Hadirmu yang baru ‘kusadari’, membuatku cukup lelah untuk menahan setiap rupa rasa yang datang saat kau di dekatku.
Pertemuan denganmu begitu membuatku letih untuk memendam segala prasangka.

Izinkan aku  terlelap lebih lama dalam baris demi baris kalimat yang kau ukir. Karena hanya dengan itu aku belajar betapa tegarnya dirimu dalam menjalani perjuangan yang sedang kamu alami.  

Izinkan aku terlelap lebih lama dalam jeda demi jeda kata yang kau hela. Karena hanya dengan itu aku bisa belajar merasakan apa yang kau rasa. Meski seringkali tak jarang kutemui, kata demi kata itu terus menghujam jantungku dan membuatku patah hati berkali-kali karena aku bukanlah seseorang yang tengah kau ceritakan. 

Izinkan aku terlelap lebih lama dalam spasi demi spasi tulisanmu. Karena hanya dengan itu aku bisa mengetahui mimpi apa yang tengah berkecamuk dalam dirimu. Hanya dengan itu aku tahu kemana langkah yang saat ini sedang kau tuju. Hingga terkadang sempat aku bermimpi untuk membersamai langkah itu ataupun berharap kau mau  membawaku membersamamu.

   Teruslah menulis. Hanya dengan itu aku bisa belajar memahamimu. Setidaknya sampai kepengecutan yang ada di dalam diriku ini hilang dan beralih untuk bertanya langsung kepadamu. Akan tetapi, aku tidak punya hak apapun sejauh ini selain hanya melihatmu dari ‘kejauhan’ meski kita sangat berdekatan apalagi untuk bertanya tentang dirimu. 
    Tahukah engkau? Seringkali aku berharap akulah seorang yang tengah kau ceritakan, tetapi sadarku bahwa aku teramat jauh dari apa yang kau impikan. Aku hanyalah aku. Bukan seorang permaisuri apalagi bidadari. Hanya saja gemuruh dalam diri teruskan kuatkan diri untuk bermimpi. Tidak ada salahnya, kan? Meski saat ini, aku bagai hamba sahaya yang mencintai pangerannya. Tetapi, hamba sahaya itu bukan Cinderella apalagi seorang putri raja yang tengah tersesat jauh dari istananya. Bukan. Aku bukan dia. Aku hanyalah aku. Seorang hamba sahaya yang mencintai tuannya. Akan tetapi, Tuhanku telah melarangku untuk mencintaimu secara berlebihan. Aku hanya diperbolehkan mencintaimu jika kau juga mencintai Tuhanku. Meski kau dengan segala pesonamu telah membuatku mulai memperhatikanmu, kuredam ambisi untuk memiliki dan dimilikimu. Biarlah bait-bait cerita yang telah dirangkai Tuhan kita jalani seperti rangkaian seharusnya. Bukan karena paksaan ataupun inginku, tetapi yang terbaik dariNya.
       Teruslah menulis. Semoga tulisan-tulisan itu mengantarkanmu kepada apa yang kamu ingin raih. Aku sebagai temanmu hanya mampu mendoakan kebaikan untukmu dan semoga akupun dapat memberikan kebaikan dalam hidupmu.
       Teruslah menulis. Karena aku belajar tentang dirimu, meski kita tidak pernah tahu itu sungguh dirimu atau palsu guna menutupi dirimu yang memang sudah benar-benar tertutup itu.
       Teruslah menulis. Rangkai cerita dan aku akan jadi pembaca setia. Dan izinkan aku terlelap lebih lama dalam setiap rangkaian kisah nan indah ataupun pilu. Aku akan belajar memahamimu, setidaknya sebagai temanmu.

Izinkan aku terlelap lebih lama.....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar Baik

Aku pernah mendengar satu kalimat nasihat yang bilang begini: "Kamu cuma butuh satu kabar baik yang dinanti dari Allah untuk menghapus banyak kepedihan dalam hidup." Sesederhana kamu butuh cahaya matahari usai hujan lebat berhari-hari yang membuat cucianmu tak kering-kering itu. Kamu hanya butuh satu keajaiban untuk berucap syukur tak henti-henti atas segala ketetapan takdir yang dijalani. Pada akhirnya, aku selalu percaya bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Selalu mengantarkanku ke titik yang lebih baik meski harus tertatih dan terpatah jalan yang harus kulalui. Ya Allah, jika aku harus menemui banyak kehilangan lagi, tak apa, asal jangan Engkau yang hilang dari hatiku. Sore yang dingin, 18122024

Kembali?

Sudah lama tidak mampir kemari. Tahun-tahun belakangan sempat gonta-ganti platform menulis, lalu tiba-tiba rindu kembali ke sini untuk memilih berkawan dengan asing dan hening. Barangkali, di usia yang sudah tidak lagi muda, kita hanya ingin kedamaian. Tidak berarti memutuskan hubungan dengan semua orang, tetapi hanya mengurangi intensitasnya dan menyisakan mereka yang penting saja. Selebihnya? Hanya orang-orang yang akan tercatat sebagai kenangan, lalu perlahan dilupakan.  Barangkali, semakin dewasa kita semakin menyadari bahwa tidak ada yang bertahan selamanya. Adakalanya, kita tidak lagi menempatkan ekspektasi yang tinggi pada sebuah hubungan antarmanusia.  Sederhananya, yang ingin tinggal 'kan kugenggam, yang ingin pergi takkan kutahan. Pada akhirnya, kita hanya akan mempertahankan apa-apa yang memberikan kedamaian, bukan sebaliknya. Maka, semoga kita selalu menemukan apa-apa yang membuat kita damai dalam kebahagiaan, terlebih dalam limpahan cinta-Nya. Juga selalu menemuka...

Siapkah?

Waktu kembali mengusik kebekuanku Telah lama hilang sajak tentangnya dalam anganku Simponi rindu yang telah memudar seiring berjalannya waktu Pintu harap yang telah kucoba tutup rapat Nyanyian sendu yang tak lagi pernah kuucap Rasa yang hadir bersamanya yang dengan kenaifanku ku tepis begitu saja, Kini menjadi satu, menyerbuku agar aku tak semakin terlelap Perlahan tapi pasti, Bayangannya yang dulu bias,kini mulai terlukiskan kembali Aku meraba-raba,mencari-cari jejaknya dalam setumpuk memoriku kurangkai lagi,kisah-kisah yang sempat terlupakan Kususun lagi,kata yang dulu sempat ku abaikan Siapkah aku? Ketika pernah ku azzamkan tak dulu ingin mengenalnya Tapi mengapa,waktu kembali hadirkan dia di hadapku Menggugah jiwa,membangunkanku dari tidur nan amat panjang Membuatku tak lagi larut dalam mimpi indah terlalu dalam Menghadirkan kenyataan yang walau itu belum pasti menjanjikan Aku ingin mengenal kenyataan, Walau kadang dia menghianati harapan Tapi aku rela,asalk...