Langsung ke konten utama

Hukuman Termanis

gambar kartun muslimah pasangan

Hari ini, seperti biasa ada kuliah siang yang siap menyapa. Kuletakkan tas ransel hitamku di salah satu bangku yang kosong. Belum ada yang datang, kecuali aku dan salah seorang temanku yang sedang melantunkan surat cinta-Nya di pojok kiri belakang sana. Aku memilih bangku di barisan kedua, berjarak satu kursi di sebelah kiri dari pertengahan antara dua papan tulis agar tak menyulitkanku untuk melihat apa yang nantinya akan ditulis di papan tulis itu. Lalu memilih tempat duduk yang lain sembari menunggu dan membaca buku.

Satu persatu mulai berdatangan dan menaruh tasnya di bangku-bangku kosong yang lain. Aku tak terlalu memperhatikan tas siapa saja yang ditaruh di sebelahku.

15 menit berlalu. Sekarang, ada tas di samping kiri dan kananku. Kutanyakan siapa pemiliknya dan ternyata itu milih teman-temanku. Keduanya laki-laki. Tak dipungkiri, jumlah kami para perempuan hanya segelintir jari yang bisa dihitung di kelas ini. Akhirnya, aku menukarkan posisi tasku dengan tas di sebelah kanan agar aku tidak berada di antara dua laki-laki. Kini aku tepat berada di tengah-tengah papan tulis itu. Lalu, kembali mencari bangku kosong lain untuk kembali menunggu.

10 menit berlalu. Tiba-tiba,seorang laki-laki meletakkan tasnya tepat di samping kananku. Oh, Tuhan. Itu dia. Dia yang saat ini sedang membuatku “sedikit” memperhatikannya hanya karena keisengan teman-temannya yang seringkali memojokkan kami pada kata “Cie”. Dan sekarang, dia akan duduk di sebelahku. Pikiranku berpikir hebat. Naluriku sejatinya tidak ingin pindah lagi. Tapi, sejujurnya aku tidak ingin fitnah itu menjadi lebih besar.

Dadaku masih bergemuruh. Aku memikirkan bagaimana untuk menghindar. Dosen kami pun datang. Aku bergegas kembali ke tempat dudukku, di bangku yang telah kuletakkan tas. Dia telah duduk di bangkunya terlebih dahulu. Hanya beberapa detik aku duduk dan melihat ke arah kiriku. Teman di sebelahku tersenyum seakan bergumam “Oh,kamu duduk disini, disebelahnya. Hmm” seakan tersenyum sinis. Lalu, aku segera mengambil tasku dan berpindah ke sebelah kiri, 3 kursi jaraknya dari tempat dudukku tadi. Ada perasaan bersalah dan menyesal. Tapi sekarang aku sedikit lega karena di samping kiriku adalah teman perempuanku dan sebelah kananku kosong.

Kuliah itu berjalan normal, meski sesekali aku melihat ke arahnya. Gemuruh itu belum hilang sepenuhnya.

Kuliah pun usai. Kami bergegas pulang. Aku pun mengambil helmku yang kutitipkan di bawah dikarenakan motorku sedang dipinjam oleh salah seorang temanku. Saat itu, azan ashar sedang menggema. Gerimis mulai turun dengan deras. Aku sedang berjalan sembari membawa helm dan berjanji untuk bertemu dengan temanku. Arahnya searah dengan mushola jurusanku. Tiba-tiba terdengar suara dari belakangku.

Kau membawanya masuk?,” tanyanya mengagetkanku. Aku menoleh ke sumber suara itu. Oh, Tuhan. Kali ini dadaku bergemuruh lebih dahsyat tapi tetap berusaha untuk tenang.

Iya. Eh tidak. Ehh iya deng.” Aku menjawab dengan tidak konsekuen karena aku tidak tahu maksud pertanyaannya apakah masuk ke kelas atau tempat penitipan. Iya untuk ke tempat penitipan dan tidak untuk masuk ke kelas, begitu maksudku. Tapi aku mulai tidak bisa menguasai diriku. Aku berjalan lebih pelan agar dia saja di depanku. Aku tidak pernah menoleh ke belakang lagi. 

Niat banget,” dia kembali berseru.

Bukan begitu, motorku sedang dipinjam oleh temanku,jadi terpaksa aku membawanya bersamaku,” aku menjawab sambil berlalu pergi tanpa menghiraukan dia lagi di belakangku. Kali ini dengan perasaan aneh dan aku tidak pernah tahu itu apa. Dan aku pun tidak tahu apa yang tengah dipikirkannya tentangku saat itu. Ah, apa peduliku.

Sejujurnya, semenjak kami sering dipojokkan meski aku tidak pernah tahu apa alasannya, kami tak pernah lagi saling berkomunikasi langsung. Dan hari ini dia memulainya. Aku kira itu basa-basi. Tapi, kukira itu juga hukuman termanis yang layak kuterima setelah aku mengacuhkannya di kelas tadi.
Ah, sudahlah. Yang terpenting aku sudah berlalu jauh darinya.

Aku tak pernah membencimu. Hanya menghindarimu untuk kebaikan semua. Biarlah Allah yang menjadi saksiku. Jika aku benar atas sikapku, maka sejatinya itu hidayah dari Allah. Jika aku salah, maka biarlah aku menanggungnya. Lirihku di sore itu.

(Di tengah deru hujan, 17 Februari 2016)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar Baik

Aku pernah mendengar satu kalimat nasihat yang bilang begini: "Kamu cuma butuh satu kabar baik yang dinanti dari Allah untuk menghapus banyak kepedihan dalam hidup." Sesederhana kamu butuh cahaya matahari usai hujan lebat berhari-hari yang membuat cucianmu tak kering-kering itu. Kamu hanya butuh satu keajaiban untuk berucap syukur tak henti-henti atas segala ketetapan takdir yang dijalani. Pada akhirnya, aku selalu percaya bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Selalu mengantarkanku ke titik yang lebih baik meski harus tertatih dan terpatah jalan yang harus kulalui. Ya Allah, jika aku harus menemui banyak kehilangan lagi, tak apa, asal jangan Engkau yang hilang dari hatiku. Sore yang dingin, 18122024

Kembali?

Sudah lama tidak mampir kemari. Tahun-tahun belakangan sempat gonta-ganti platform menulis, lalu tiba-tiba rindu kembali ke sini untuk memilih berkawan dengan asing dan hening. Barangkali, di usia yang sudah tidak lagi muda, kita hanya ingin kedamaian. Tidak berarti memutuskan hubungan dengan semua orang, tetapi hanya mengurangi intensitasnya dan menyisakan mereka yang penting saja. Selebihnya? Hanya orang-orang yang akan tercatat sebagai kenangan, lalu perlahan dilupakan.  Barangkali, semakin dewasa kita semakin menyadari bahwa tidak ada yang bertahan selamanya. Adakalanya, kita tidak lagi menempatkan ekspektasi yang tinggi pada sebuah hubungan antarmanusia.  Sederhananya, yang ingin tinggal 'kan kugenggam, yang ingin pergi takkan kutahan. Pada akhirnya, kita hanya akan mempertahankan apa-apa yang memberikan kedamaian, bukan sebaliknya. Maka, semoga kita selalu menemukan apa-apa yang membuat kita damai dalam kebahagiaan, terlebih dalam limpahan cinta-Nya. Juga selalu menemuka...

Siapkah?

Waktu kembali mengusik kebekuanku Telah lama hilang sajak tentangnya dalam anganku Simponi rindu yang telah memudar seiring berjalannya waktu Pintu harap yang telah kucoba tutup rapat Nyanyian sendu yang tak lagi pernah kuucap Rasa yang hadir bersamanya yang dengan kenaifanku ku tepis begitu saja, Kini menjadi satu, menyerbuku agar aku tak semakin terlelap Perlahan tapi pasti, Bayangannya yang dulu bias,kini mulai terlukiskan kembali Aku meraba-raba,mencari-cari jejaknya dalam setumpuk memoriku kurangkai lagi,kisah-kisah yang sempat terlupakan Kususun lagi,kata yang dulu sempat ku abaikan Siapkah aku? Ketika pernah ku azzamkan tak dulu ingin mengenalnya Tapi mengapa,waktu kembali hadirkan dia di hadapku Menggugah jiwa,membangunkanku dari tidur nan amat panjang Membuatku tak lagi larut dalam mimpi indah terlalu dalam Menghadirkan kenyataan yang walau itu belum pasti menjanjikan Aku ingin mengenal kenyataan, Walau kadang dia menghianati harapan Tapi aku rela,asalk...