Langsung ke konten utama

Senja Bersamamu

Di sore itu,di sudut taman kota,kita bertemu.Tidak hanya berdua. Kita tengah menunggu yang lainnya.Sebenarnya, kita sudah lama bertemu sebelumnya. Akan tetapi, mengenalmu adalah hal yang baru bagiku. Kita baru saja berkenalan seminggu yang lalu karena satu hal yang memang sudah ditakdirkan. Mau tidak mau,beberapa hari terakhir aku harus menjalin komunikasi denganmu. Tidak ada yang istimewa. Aku bukan orang yang mudah terpesona pada pandangan pertama. Meski Aku mempercayai adanya jatuh cinta pada pandangan pertama,tetapi kali ini aku berani taruhan bahwa aku tak mengalaminya.Bahkan,aku mungkin memang belum pernah mengalaminya.
Kita bertemu. Ada yang lain juga. Bukan hanya kita. Kau memulainya dengan salam santunmu. Kau memang pemimpin kelompok ini. Akan tetapi,melihatmu berbicara di dalam forum seperti ini adalah hal kedua yang baru bagiku. Begitu mudah kau membawa suasana menjadi hikmat
. Lihat,semua mata tertuju padamu. Sesekali mereka tersenyum penuh harapan oleh kata-katamu. Begitupun aku. Di sudut lain yang tak kau perhatikan.

Anggunnya pesonamu mengalahkan keanggunan mentari di sore ini. Mentari seakan cemburu padamu melihat mereka yang begitu serius memperhatikanmu. Gaya gravitasi itu kini telah beralih pusatnya. Bahkan,aku baru sadar ternyata kau adalah orang yang cukup manis ketika tersenyum. Sorot matamu begitu tajam namun menawan. Aku mengangguk penuh takzim ketika pesan-pesan itu meluncur dari bibirmu. Seakan pesan itu hanya khusus dibuat untukku,bukan mereka. Aku diam tak bergeming mengagumi setiap jejak keindahan yang kau ciptakan. Entah itu teduhnya tatapan matamu atau tawa kecilmu yang tidak dibuat-buat untuk sekedar mencairkan suasana. Semua apa adanya.Sesekali kerlingan mata itu tertuju juga padaku. Lekas saja ku buang mukaku agar aku tak tertangkap sedang memerhatikanmu. Akan tetapi,hal itu menimbulkan dilema : membiarkan tertahan dalam kebisuan atau tertahan dalam luka. Membuang muka berarti bersiap untuk tertahan dalam luka karena dengannya aku takkan bisa menyaksikan kau menatapku walau untuk sepersekian detik. Padahal,itulah kesempatanku untuk menatap mata indah itu. Akan tetapi,sampai saat ini,aku tak pernah berani untuk melakukannya. Sungguh dilema.

Sang surya telah sampai di batas cakrawala. Cahaya senja mulai menyeruak masuk ke sela-sela dedaunan. Hal ini menjadikanku bertambah dilema : menikmati pesona senja atau senyummu. Aku semakin terdiam. Bungkam untuk mengungkapkan sekedar kata. Begitu sempurna dia tercipta. Bersama pesona senja yang menjadikannya bersahaja.

Sesekali tatap mata beradu temu. Senyum kebekuan menghiasinya. Aku merunduk malu. Mulutku membisu. Lidahku seketika kaku. Aku lupa. Lupa cara bicara. Aku bahkan terbata untuk sekedar menyebut nama. Terlanjur terlena. Mungkin senja telah mengutukku. Ia marah karena aku tak memperhatikannya seperti hari-hari sebelumnya. Diambilnya rangkaian kata yang biasanya selalu kurangkai untuknya. Hingga aku setengah mati mengingat kata yang sudah kusiapkan jauh sebelum aku bertemu denganmu. Agaknya,senja sudah tahu gelagatku. Senja cemburu karena kau telah merebutku darinya. Jadi, maafkan aku, jika di senja itu aku kehilangan kata-kataku. Maafkan aku, yang mungkin hingga saat ini senja belum juga mengembalikannya. Sepertinya dia masih marah padaku. Senyummu terlalu mempesona,katanya. Aku hanya diizinkannya untuk mengungkapkan lewat baris aksara untukmu. Sekali lagi, maafkan aku.

Senja kian memerah. Kali ini dia telah benar-benar marah padaku . Aku takut,tapi sekaligus takjub. Hingga bukan hanya mulutku saja yang terkunci,tapi detak jantungku berirama memecah sunyi. Aku menyerah. Pasrah. Kau berhasil menawanku di senja ini.

September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabar Baik

Aku pernah mendengar satu kalimat nasihat yang bilang begini: "Kamu cuma butuh satu kabar baik yang dinanti dari Allah untuk menghapus banyak kepedihan dalam hidup." Sesederhana kamu butuh cahaya matahari usai hujan lebat berhari-hari yang membuat cucianmu tak kering-kering itu. Kamu hanya butuh satu keajaiban untuk berucap syukur tak henti-henti atas segala ketetapan takdir yang dijalani. Pada akhirnya, aku selalu percaya bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Selalu mengantarkanku ke titik yang lebih baik meski harus tertatih dan terpatah jalan yang harus kulalui. Ya Allah, jika aku harus menemui banyak kehilangan lagi, tak apa, asal jangan Engkau yang hilang dari hatiku. Sore yang dingin, 18122024

Kembali?

Sudah lama tidak mampir kemari. Tahun-tahun belakangan sempat gonta-ganti platform menulis, lalu tiba-tiba rindu kembali ke sini untuk memilih berkawan dengan asing dan hening. Barangkali, di usia yang sudah tidak lagi muda, kita hanya ingin kedamaian. Tidak berarti memutuskan hubungan dengan semua orang, tetapi hanya mengurangi intensitasnya dan menyisakan mereka yang penting saja. Selebihnya? Hanya orang-orang yang akan tercatat sebagai kenangan, lalu perlahan dilupakan.  Barangkali, semakin dewasa kita semakin menyadari bahwa tidak ada yang bertahan selamanya. Adakalanya, kita tidak lagi menempatkan ekspektasi yang tinggi pada sebuah hubungan antarmanusia.  Sederhananya, yang ingin tinggal 'kan kugenggam, yang ingin pergi takkan kutahan. Pada akhirnya, kita hanya akan mempertahankan apa-apa yang memberikan kedamaian, bukan sebaliknya. Maka, semoga kita selalu menemukan apa-apa yang membuat kita damai dalam kebahagiaan, terlebih dalam limpahan cinta-Nya. Juga selalu menemuka...

Siapkah?

Waktu kembali mengusik kebekuanku Telah lama hilang sajak tentangnya dalam anganku Simponi rindu yang telah memudar seiring berjalannya waktu Pintu harap yang telah kucoba tutup rapat Nyanyian sendu yang tak lagi pernah kuucap Rasa yang hadir bersamanya yang dengan kenaifanku ku tepis begitu saja, Kini menjadi satu, menyerbuku agar aku tak semakin terlelap Perlahan tapi pasti, Bayangannya yang dulu bias,kini mulai terlukiskan kembali Aku meraba-raba,mencari-cari jejaknya dalam setumpuk memoriku kurangkai lagi,kisah-kisah yang sempat terlupakan Kususun lagi,kata yang dulu sempat ku abaikan Siapkah aku? Ketika pernah ku azzamkan tak dulu ingin mengenalnya Tapi mengapa,waktu kembali hadirkan dia di hadapku Menggugah jiwa,membangunkanku dari tidur nan amat panjang Membuatku tak lagi larut dalam mimpi indah terlalu dalam Menghadirkan kenyataan yang walau itu belum pasti menjanjikan Aku ingin mengenal kenyataan, Walau kadang dia menghianati harapan Tapi aku rela,asalk...