Langsung ke konten utama

Bunga di Tepian

Foto oleh Nesty Alisa
Keberadaanmu bukan di tengah-tengah taman yang indah dan sering dikunjungi oleh banyak orang. Bukan pula menghiasi rumah megah yang menjulang di pojok sana. Apalagi,bersama rerimbunan kedamaian hutan bersama kawananmu yang lain. Kau ada di sana. Di tepian sungai yang terkadang tak dilirik manusia. Akan tetapi, aku melihatmu. Mengamatimu dari kejauhan saat kau berdiri tegar menantang terik mentari  yang perlahan melayukanmu. Tak seorang pun ingin memetikmu. Jangankan memetik,kau bahkan tak disadari keberadaannya oleh mereka. Diacuhkan. Kau hanya dianggap bangsa rerumputan yang merusak pemandangan. Tapi tenang saja,hal itu tidak berlaku bagiku. Sore ini, aku membawa kamera kesayanganku. Aku ingin membingkaimu dalam puing-puing kenangan yang kurangkai. Aku akan buktikan bahwa kau adalah bunga yang indah seperti bunga-bunga yang lain.

Alunan indah tangkaimu yang tertiup angin. Akan kuabadikan senyuman yang senantiasa terpancarkan dari kebekuan warnamu yang tak dapat kupahami. Sekalipun kau berasal dari bangsa rerumputan, tetapi tetap saja kau adalah bunga. Bunga rumput. Begitu aku menamaimu. Sekali lagi,kau tetaplah bunga. Seperti halnya bunga pada umumnya yang juga memiliki warna. Kau memenuhi syarat itu. Ada beragam warnamu. Bagiku, kehadiranmu menunjukkan adanya kehidupan di sungai itu. Kau yang gagah berani menantang angin di sore hari. Terombang-ambing kian kemari dan membuatmu lebih indah berulang kali. Kau menghiasi tepian yang kesepian. Berjuang mencari-cari sumber air yang padahal ada di dekatmu. Dan terkadang merelakan sebagian tubuhmu dimakan oleh binatang ternak yang kelaparan.

Aku menatapmu dari kejauhan. Aku tahu kau telah banyak berjuang untuk bertahan. Kau ada untuk menuntun mereka yang tersesat di perjalanan saat sedang kehausan. Meski kadang mereka seringkali tidak berterimakasih padamu dan malah menebas paksa dirimu yang semakin dirundung kepedihan.

Hai,bunga di tepian. Kenalkan aku,teman barumu. Aku akan menemani dirimu yang kesepian.  Aku berjanji akan selalu mengunjungimu ketika senja akan menjelang. Tapi,izinkan aku untuk mendudukimu tangkai-tangkaimu sembari menikmati mentari yang akan tenggelam. Aku berjanji,hanya akan kududuki. Takkan kusakiti lebih dari itu. Jika aku sedikit jahil,maka akan kurangkai engkau menjadi mahkota di kepalaku. Percayalah, kau indah. Jika nanti musim kemarau tiba, aku pastikan kau adalah bunga-bunga yang bertahan dari sekian banyak bunga indah di luar sana. Karena ada sumber kehidupan yang berada di dekatmu. Syukuri itu.  Aku percaya,kau lebih kuat dari yang mereka duga. Kau lebih indah dari yang mereka kira. Meski jarang sekali ada yang mengunjungimu, aku rela menjadi temanmu seperti para kupu-kupu itu ntuk sekedar mengusir rasa sepimu dan sepiku. Semoga kau tangguh dan tak tergoyahkan.


Komentar